Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

I'TIKAF

Alhamdulillah 20 hari sudah Bulan Ramadhan 1446 H dilalui. Saatnya kaum muslimin menemui “babak final” pada 10 malam terakhir Bulan Ramadhan. Malam – malam yang utama karena pada salah satu malam tersebut akan ada malam yang paling mulia yakni malam Lailatur Qadr sebagaiman sabda Rasul Shalallahu Alaihi wa Sallam yang artinya, “Carilah Lailatul Qadar di malam ganjil dari sepuluh malam terakhir bulan Ramadhan.” (HR. Bukhari & Muslim)

Lailatul Qadar berasal dari bahasa Arab (ليلة القدر) yang berarti Malam Kemuliaan atau Malam Ketetapan. Malam ini disebut dalam Al-Qur’an sebagai malam yang penuh berkah dan lebih baik dari seribu bulan. Allah ta’ala berfirman yang artinya,“Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al-Qur’an) pada malam kemuliaan (Lailatul Qadar). Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu? Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan.”(QS. Al-Qadr: 1-3)

Sungguh ada banyak keutamaan Malam Lailatur Qadr yang disebutkan dalam Al Qur’an maupun Al Hadits. Rasulullah Shalallahu Alaihi wa Sallam memberi teladan pada ummatnya dengan menyibukkan diri beribadah pada 10 malam akhir bulan ramadhan, sebagaimana tersebut dalam sebuat riwayat hadits yang artinya,Dari Aisyah radhiyallahu anha, Rasulullah Shalallahu Alaihi wa Sallam sangat bersungguh-sungguh (beribadah) pada sepuluh hari terakhir (bulan ramadhan), melebihi kesungguhan beribadah di selain (malam) lainnya” (HR Muslim).

Salah satu ibadah yang sangat dianjurkan pada 10 malam akhir Bulan Ramadhan adalah melakukan I’tikaf. Ada banyak nash yang menyerukan tentang i;tikaf ini, diantaranya adalah firman Allah ta’ala yang artinya,…maka sekarang campurilah mereka dan carilah apa yang   ditetapkan Allah untukmu, dan makan minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar. Kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai (datang) malam, (tetapi) janganlah kamu campuri mereka itu, sedang kamu beri’tikaf dalam masjid. Itulah larangan Allah, maka jangan kamu mendekatinya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepada manusia, supaya mereka bertaqwa..” (QS. Al Baqarah : 187)

Rasul Shalallahu Alaihi wa Sallam juga bersabda yang artinya,“Barangsiapa melaksanakan shalat pada malam lailatul qadar karena iman dan mengharap pahala dari Allah, maka dosa-dosanya yang telah lalu akan diampuni.” (HR. Bukhari, no. 1901)

Pada hadits lain juga disebutkan bahwa,”Barangsiapa beribadah (menghidupkan) bulan Ramadhan dengan iman dan mengharap pahala, maka Allah akan mengampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” (HR Bukhari dan Muslim)

I’tikaf yaitu aktifitas berdiam diri di masjid dalam satu tempo tertentu dengan melakukan amalan-amalan (ibadah-ibadah) tertentu untuk mengharapkan ridha Allah. Berapa lama durasi pelaksanaan i’tikaf? Ulama berbeda pendapat dalam hal ini, namun secara garis besar dapat disebutkan bahwa

1.      Madzhab Hanafi

Terdapat perincian dalam masalah ini. Jika  i`tikaf  wajib, semisal i`tikaf  karena nadzar maka minimal harus dilakukan dalam satu hari menurut Imam Abu Hanifah. Sedangkan menurut Imam Abu Yusuf lebih dari satu hari. Namun jika i`tikaf  sunnah, maka bisa dilakukan satu jam, menurut Muhammad bin Hassan.

2.      Madzhab Maliki

Imam Malik berpendapat bahwasannya waktu i`tikaf paling sedikit adalah sepuluh hari dan paling maksimal adalah satu bulan. Pendapat ini merupakan pendapat yang mu’tamad dalam madzhab. Dengan demikian lebih dari satu bulan hukumnya makruh.

3.      Madzhab Hanbali

Pendapat dhahir madzhab bahwasannya boleh i`tikaf tanpa puasa, sehingga boleh tidak sampai satu hari, meski sebentar. Meski demikian, ada pula riwayat lain dari Imam Ahmad bahwa i`tikaf  minimal sehari karena disyaratkan puasa. Namun pendapat masyhur dalam madzhab adalah pendapat pertama.

4.      Madzhab Syafi`i

Dalam Madzhab Syafi`i pendapat yang shahih adalah bahwa i`tikaf bisa dilakukan dengan berdiam diri di masjid dalam waktu sebentar atau lama.  Imam Al-Haramain menyatakan bahwa sebentar di sini tentu lebih dari waktu tuma`ninah.

Namun Imam Syafi`i menyatakan bahwa lebih utama dilakukan dalam satu hari, untuk menghindari khilaf dengan pendapat Imam Abu Hanifah yang menyatakan bahwa minimal waktu yang dihabiskan dalam i`tikaf adalah satu hari.

Jika keumuman masyarakat negeri ini ber–mazhab Syafii maka dapat mengambil pendapat ulama di mazhab ini bahwa I’tikaf dapat dilakukan dalam waktu yang sebentar ataupun lama, namun setidaknya lebih dari waktu tuma’ninah.

Pada QS Al-Baqarah ayat 187 dijelaskan bahwa i’tikaf dilaksanakan di masjid. Ada pebedaan pendapat tentang masjid yang dapat digunakan untuk pelaksanaan i’tikaf. Sebagian berpendapat bahwa masjid yang dapat dipakai untuk pelaksanaan i’tikaf adalah masjid yang memiliki imam dan muadzin khusus, baik masjid tersebut digunakan untuk pelaksanaan salat lima waktu atau tidak.

Hal ini sebagaimana dipegang oleh al-Hanafiyah (ulama Hanafi). Sedang pendapat yang lain mengatakan bahwa i’tikaf hanya dapat dilaksanakan di masjid yang biasa dipakai untuk melaksanakan salat jama’ah. Pendapat ini dipegang oleh al-Hanabilah (ulama Hambali). Namun keumuman pendapat menyebutkan masjid yang dapat dipakai untuk melaksanakan i’tikaf sangat diutamakan masjid jami atau masjid yang biasa digunakan untuk melaksanakan salat Jum’at.

Ada banyak amal shalih yang dapat dilaksanakan saat I’tikaf, diantaranya :

1. Shalat

Baik shalat wajib secara berjamaah atau pun shalat sunnah, baik yang dilakukan secara berjamaah maupun sendirian. Misalnya shalat tarawih, shalat malam (qiyamullail), shalat witir, shalat sunnah sebelum shalat shubuh, shalat Dhuha', shalat sunnah rawatib (qabliyah dan ba'diyah) dan lainnya.

2. Zikir

Semua bentuk zikir sangat dianjurkan untuk dibaca pada saat i'tikaf. Namun lebih diutamakan zikir yang lafaznya dari Al-Quran atau diriwayatkan dari sunnah Rasulullah Shalallahu Alaihi wa Sallam secara shahih. Jenis lafadznya sangat banyak dan beragam, tetapi tidak ada ketentuan harus disusun secara baku dan seragam. Juga tidak harus dibatasi jumlah hitungannya.

3. Membaca ayat Al-Quran

Membaca Al-Quran (tilawah) sangat dianjurkan saat sedang beri'tikaf. Terutama bila dibaca dengan tajwid yang benar serta dengan tartil.

4. Belajar Al-Quran

Bila seseorang belum terlalu pandai membaca Al-Quran, maka akan lebih utama bila kesempatan beri'tikaf itu juga digunakan untuk belajar membaca Al-Quran, memperbaiki kualitas bacaan dengan sebaik-baiknya. Agar ketika membaca Al-Quran nanti, ada peningkatan.

5. Belajar Memahami Isi Al-Quran

Selain pentingnya membaca Al-Quran dengan berkualitas, maka meningkatkan pemahaman atas setiap ayat yang dibaca juga tidak kalah pentingnya. Sebab Al-Quran adalah pedoman hidup kita yang secara khusus diturunkan dari langit. Tidak lain tujuannya agar mengarahkan kita ke jalan yang benar. Tentunya belajar baca dan memahami ayat Al-Quran membutuhkan guru yang ahli di bidangnya. Tanpa guru, sulit bisa dicapai tujuan itu.

6. Berdoa

Berdoa adalah meminta kepada Allah atas apa yang kita inginkan, baik yang terkait dengan kebaikan dunia maupun kebaikan akhirat. Aktivitas berdoa merupakan bagian dari pendekatan kita kepada Allah. Allah Ta’ala senang dengan hamba-Nya yang meminta kepada-Nya. Semakin banyak kita meminta, maka semakin banyak pula pahala yang Allah berikan. Meski tidak langsung dikabulkan, tetapi karena meminta itu adalah ibadah, maka tetaplah meminta. Dan bila dikabulkan, tentu saja menjadi kebahagiaan tersendiri.

Rasulullah Shalallahu Alaihi wa Sallam mengajarkan doa yang dianjurkan untuk dibaca saat malam Lailatul Qadar : “Allahumma innaka ‘afuwwun tuhibbul ‘afwa fa’fu ‘anni.” Yang artinya, “Ya Allah, sesungguhnya Engkau Maha Pengampun, dan Engkau menyukai pengampunan, maka ampunilah aku.” (HR. Tirmidzi)

Bagi muslimah yang sedang haid masih memungkin meraih keutamaan malam lailatul qadr. Meski ia tidak bisa melaksanakan I’tikaf di masjid namun ia dapat melaksanakan amal ibadah lain di luar masjid, seperti berdoa, berdzikir, bershodaqoh dan sebagainya.

 

Khatimah

Bulan Ramadhan adalah bulan ampunan. Seorang muslim dapat menggapai ampunan Allah ta’ala dengan shalatnya, dengan puasanya ataupun ibadah di malam lailatul qadr. Ada banyak peluang dan wasilah untuk meraih ampunan Allah ta’ala. Maka hendaknya kaum muslimin mengoptimalkan ibadahnya di sisa bulan ramadhan ini. Jangan sampai kita menjadi orang yang merugi di Bulan Ramadhan ini sebagaiman sabda Rasul Shalallahu Alaihi wa Sallam yang artinya,

Sungguh sangat merugikan seseorang yang disebutkan namaku di hadapannya tetapi dia tidak bershalawat atasku. Dan sungguh sangat rugi seseorang yang ia masuk dalam bulan Ramadhan kemudian berlalu Ramadhan sebelum diampuni dosanya. Sungguh sangat rugi seseorang mendapati di sisinya (orang tua tersebut tinggal bersamanya) kedua orang tuanya atau salah satu dari keduanya dalam keadaan tua tetapi tidak memasukkannya ke dalam surga.” (HR. Tirmidzi).

Wallahu a’lam bi ashowab

Posting Komentar untuk "I'TIKAF"