Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Al Qur'an Petunjuk Bagi Ummat Manusia

Alhamdulillah sudah hampir setengah perjalanan kaum muslimin menikmati Bulan Ramadhan 1446 H. Bulan Mulia yang penuh keberkahan, yang di dalamnya diturunkan  untuk pertama kalinya ayat – ayat Al Qur’an.

Allah ta’ala berfirman Syahru ramaḍānallażī unzila fīhil-qur`ānu hudal lin-nāsi wa bayyinātim minal-hudā wal-furqān, yang artinya(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil). (QS. Al Baqarah : 185)

Prof. Dr. Wahbah az-Zuhaili menjelaskan tentang ayat ini bahwa, Bulan puasa diistimewakan dengan turunnya Al-Qur’an di dalamnya pada malam lailatul qadar, atau dengan turunnya Al-Qur’an dalam satu jumlah dari lauhil mahfudz ke langit dunia sebagai petunjuk bagi manusia dari kesesatan dan ayat-ayat muhkamat yang memberi penjelasan berupa hidayah Tuhan yang kuat, jelas dan terang bagi akal sehat, yaitu pemisah antara yang haq dan bathil.

Dalam ringkasan tafsir Ibnu Katsir disebutkan bahwa, Allah ta’ala memuji bulan puasa di antara semua bulan dengan memilihnya dari bulan-bulan lain sebagai waktu untuk menurunkan Al-Qur'an yang agung. Sebagaimana Allah juga telah memilihnya untuk itu, telah disebutkan dalam hadits bahwa bulan ini adalah bulan di mana kitab-kitab ilahi diturunkan kepada para nabi. Shuhuf nabi Ibrahim diturunkan pada malam pertama bulan Ramadhan, Taurat diturunkan pada hari keenam bulan Ramadhan. Injil diturunkan pada tanggal tiga belas bulan Ramadhan.

 

Al Qur’an sebagai Petunjuk

Al-Qur'an adalah kitab suci kaum Muslimin dan menjadi sumber ajaran Islam yang pertama dan utama yang harus mereka Imani dan aplikasikan dalam kehidupan agar memperoleh kebaikan serta kesejahteraan di dunia maupun akhirat.

Mengutip Ust Suko Wahyudi pada Suara Muhammadiyah, disebutkan bahwa Al-Qur'an merupakan pedoman bagi seluruh umat manusia, disamping sebagai pedoman bagi orang-orang beriman. Semua manusia, baik yang beriman maupun yang tidak beriman, memiliki potensi untuk meraih petunjuk-petunjuk yang terdapat di dalam Al-Qur'an.

Namun dengan keimanan yang dimiliki oleh seorang muslim, tentunya mereka memiliki potensi yang lebih besar untuk meraih petunjuk Al-Qur'an dibandingkan dengan orang-orang yang tidak beriman. Sebagaimana dikatakan Buya Hamka, petunjuk Al-Qur'an itu sulit diraih oleh orang-orang yang belum memiliki hati yang bersih.

Sebagai pedoman hidup manusia, isi kandungan Al-Qur'an tidak terlepas dari hal-hal yang berhubungan dengan manusia dan realitas kehidupannya. Dimana kandungannya dapat diklasifikan menjadi empat macam.

Pertama, akidah atau tauhid yang merupakan pembeda antara iman dan kafir. Aqidah ini berkenaan dengan iman kepada Allah, malaikat, kitab-kitab-Nya, Rasul-rasul-Nya dan hari akhirat.

Kedua, hukum-hukum yang mengatur hubungan manusia dengan Allah, dengan dirinya sendiri, dengan sesama manusia baik yang muslim maupun kafir, dan dengan alam lingkungannya.

Ketiga, moral atau akhlak mulia, yang dapat memperbaiki kondisi perangai pribadi dan masyarakat serta mendidik mereka menjadi manusia-manusia yang memiliki pribadi yang baik.

Keempat, janji yang baik berupa keselamatan di dunia dan akhirat bagi orang-orang yang melaksanakan perintah-Nya serta mejauhi segala larangan-Nya dan ancaman berupa siksa bagi orang-orang yang ingkar dan kafir kepada Allah ta’ala.

Al-Qur'an adalah kitab suci untuk seluruh umat manusia, petunjuk-petunjuk yang ada di dalamnya bersifat universal, lengkap, mampu menghadapi tantangan zaman, dan memenuhi kebutuhan-kebutuhan manusia di sepanjang zaman. Sifatnya yang universal merupakan salah satu karakter Al-Qur'an yang sangat istimewa jika dibandingkan dengan kitab suci yang turun sebelumnya.

Allah ta’ala berfirman yang artinya,”Dan kami telah menurunkan Kitab (Al-Qur'an) kepadamu (Muhammad) dengan membawa kebenaran, yang membenarkan kitab-kitab yang diturunkan sebelumnya dan menjaganya, maka putuskanlah perkara mereka menurut apa yang diturunkan Allah dan janganlah engkau mengikuti keinginan mereka dengan meninggalkan kebenaran yang telah datang kepadamu.

Untuk setiap umat di antara kamu, Kami berikan aturan dan jalan yang terang. Kalau Allah menghendaki, niscaya kamu dijadikan-Nya satu umat (saja), tetapi Allah hendak menguji kamu terhadap karunia yang telah diberikan-Nya kepadamu, maka berlomba-lombalah berbuat kebajikan. Hanya kepada Allah kamu sekalian kembali, lalu diberitahukan-Nya kepadamu terhadap apa yang dahulu kamu perselisihkan.” (QS. Al-Maidah [5]: 48)

Sebagai pedoman Al-Qur'an berisi firman-firman tebaik yang penuh dengan bimbingan hidayah dan sinar hikmah. Al-Qur'an memberikan keterangan-keterangan tentang batas-batas yang ditentukan Allah ta’ala, kewajiban-kewajiban yang harus dilaksanakan, keterangan mengenai halal dan haram, sehingga manusia memiliki pedoman dan arahan yang jelas dalam melaksanakan tugas hidupnya sebagai makhluk Allah ta’ala di dunia.

 

Al Qur’an sebagai Pembeda

Allah ta’ala memberi nama lain bagi Al-Qur’an dengan Al-Furqan berarti sebagai pembeda sebagaimana firman-Nya yang artinya,”Maha suci Allah yang telah menurunkan Al-Furqaan (Al Quran) kepada hamba-Nya agar dia menjadi pemberi peringatan kepada seluruh alam.” (QS. Al-Furqon : 1). 

Mengutip Ust. Abdul Wahab Yahya pada NU online, bahwa Mayoritas mufassir (ahli tafsir) mengatakan bahwa yang dimaksud dengan Al-Furqon pada ayat di atas adalah Al-Qur'an. Al-Furqon adalah masdar yang maknanya Allah telah menurunkan pemisah (fashl) dan farq (pembeda) antara benar dan salah. Kata fashl dan farq ini diturunkan di dalam Al-Kitab, sebagai pemisah antara tauhid dan syirik, antara al haq dan bathl. 

Dikatakan Imam Al-Qurthubi, penyebutan Al-Qur’an sebagai Al-Furqân karena dua aspek. Pertama, karena membedakan antara kebenaran dan kebatilan, mukmin dan kafir. Kedua, karena di dalamnya terdapat penjelasan tentang perkara yang disyariahkan, baik yang halal maupun yang haram. 

Sebelum Al-Qur’an diturunkan, manusia telah berinteraksi dengan berbagai sistem peradaban, agama dan tradisi, maka Al-Qur’an hadir memberi penekanan untuk membedakan, mana saja tradisi yang bisa diteruskan dan mana saja tradisi yang perlu dihentikan. Dan dengan Al-Qur’anlah yang membedakan konsep pemikiran keagamaan yang sebelumnya, yaitu seperti agama samawi (Yahudi dan Nasrani) atau agama ardhi. 

Sebelumnya manusia telah mengenal tatacara beribadah, maka Al-Qur'an datang sebagai pembeda tata cara ibadah yang perlu ditinggalkan dan menjalankan tatacara ibadah yang diajarkan Al-Qur’an.

Al-Qur’an memang pembeda dari kitab-kitab suci lainnya yang keontentikannya masih dalam berdebatan dan terdapat berbagai versi, sementara Al-Qur’an tetap terjaga keasliannya sebagaimana janji Allah. Al-Qur’an memang sangat berbeda dari kitab suci yang lain karena isinya sangat ilmiah, begitu filosofis dan komprehenship, mencakup berbagai aspek seperti peribadatan, hukum, ekonomi, sains, pengobatan dan bahkan aspek sejarah. 

Al-Qur’an memang berbeda dari kitab suci yang lain. Al-Qur’an merupakan kitab suci yang paling banyak dibaca oleh manusia. Al-Qur’an juga kitab suci yang paling banyak dihafal oleh manusia.

 

Khatimah

Al Qur’an merupakan sumber hidayah bagi seluruh manusia menuju kepada kebenaran. Di dalamnya terdapat bukti petunjuk yang paling jelas yang mengantarkan kepada hidayah Allah dan pembeda antara kebenaran dengan kebatilan. Bulan Ramadhan adalah waktu yang tepat untuk memperbanyak bacaan Al Qur’an, memahami isinya sesuai pemahaman ulama serta mengamalkannya dalam kehidupan sehari – hari.

Wallahu a’lam bi ashowab.

Posting Komentar untuk "Al Qur'an Petunjuk Bagi Ummat Manusia"